Minggu, 17 Februari 2013

Lingkungan Biotik dan Lingkungan Abiotik

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: “organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan”. Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.
Komponen pembentuk
Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:
Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya . Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
Pengurai / dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar.Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur.Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu:
aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan
anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan
fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.
Antar komponen biotik
Ketergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui:
Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang.
Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya.
Antar komponen biotik dan abiotik
Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi, seperti:
siklus karbon
siklus air
siklus nitrogen
siklus sulfur
Siklus ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi menumpuk pada suatu tempat. Ulah manusia telah membuat suatu sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik, manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.
Tipe-tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan.
Akuatik (air)
Ekosistem air tawar.
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji.Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Ekosistem air laut.
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar.Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.
Ekosistem estuari.
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.
Ekosistem pantai.
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin.Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.
Ekosistem sungai.
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.
Ekosistem terumbu karang.
Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat tinggi.Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain.Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang.Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki pasir putih.
Ekosistem laut dalam.
Kedalamannya lebih dari 6.000 m.Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.
Ekosistem lamun.
Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti hal nya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak.Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan meng hasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara.Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Sumber: http://gheabusted.wordpress.com/

Cara Mengelola Sampah yang Baik

Oleh : H. Kliwon Suyoto. Kepada anak didiknya guru selalu menganjurkan untuk tampil bersih. "Bersih itu pangkal kesehatan," demikian pesan mereka. Juga dianjurkan agar murid membuang sampah pada tempatnya, yang tentu berkaitan dengan aspek kebersihan. Tetapi, apakah anjuran guru tersebut melekat pada diri seorang anak didik - Apakah anak didik yang kemudian beranjak dewasa, bahkan menjadi kepala keluarga peduli dengan arti pentingnya pesan tersebut - Ini tentu tidak lepas dari kultur lingkungan keluarga. Bagaimana kebersihan di lingkungan keluarga kita kondisikan - Sudahkan kita memiliki budaya yang adaptif dengan lingkungan ?, mengelola sampah dengan baik ?
Jawaban pertanyaan tadi penting artinya bila dikaitkan dengan kondisi lingkungan kita yang semakin terancam dengan kerusakan. Setelah di pedalaman hutan dibabat habis, gundul dan rawan banjir serta tanah longsor. Di kota pun seolah tak mau ketinggalan, hujan sedikit saja dapat menimbulkan genangan air di jalanan. Sebab, sejumlah got saluran air tersumbat oleh sampah non-organik, yaitu plastik bekas kemasan aneka minuman dan makanan yang dibuang sembarangan. Sementara kecendrungan kita sebagai masyarakat kota seolah tidak ramah lagi melihat permukaan tanah. Halaman rumah nyaris diplester habis, tidak menyisakan permukaan tanah untuk resapan air.

Selayaknya kita berterima kasih pada saudara kita yang nasibnya kurang beruntung. Menjadi pemulung, memilah-milah sampah di TPA (Tempat Pembuangan (sampah) Akhir), sehingga problem sampah non-organik sedikit tertolong. Bayangkan, seandainya para pemulung tidak ada, sampah plastik bekas kemasan aneka makanan dan minuman era kini menyumbat sejumlah got. Sistem drainase perkotaan tidak berfungsi. Hujan sedikit sekalipun bisa saja menimbulkan banjir, minimal genangan air yang potensial bagi pembiakan wabah penyakit, seperti nyamuk malaria serta berjangkitnya penyakit demam berdarah.

Sampah di Sekitar Kita

Pemko Medan belum mampu mengatasi sampah yang membukit di tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Kenyataan ini cukup menimbulkan keresahan, karena selain merusak pesona keindahan kota, tumpukan sampah yang berserak ke badan jalan juga menebar bau tak sedap. Demikian ditulis salah satu Harian terbitan Medan, menyoroti sampah yang dibuang di TPS Jl Pegadaian, yang tidak saja berasal dari Kelurahan Aur, tetapi juga dari kawasan lain. Fakta timbunan sampah di kota Medan ini konon tidak hanya di Jl. Pegadaian, juga di Jl. Mahkamah Kelurahan Masjid Kecamatan Medan Kota, TPS Pasar Petisah, TPS Jalan Pelangi Kelurahan Sei Mati, TPS Simpang Limun, TPS Sukaramai dan sejumlah TPS lainnya.

Kepala Dinas Kebersihan Medan mengakui, pihaknya belakangan ini menghadapi kendala untuk segera mengangkut sampah karena keterbatasan sarana. Fakta ini semakin meyakinkan kita, bahwa masalah sampah tidak dapat hanya berharap dari peranan pemerintah. Peran serta dan partisipasi masyarakat untuk ikut menanggulangi akan lebih menentukan. Sebab, produksi sampah se-kota Medan 1.300 ton/hari, sementara kemampuan angkut antara 800 – 900 ton sampah/hari, sehingga ada saldo sampah 400 – 300 ton sampah/hari.

Problem sampah ini diyakini tidak hanya di kota Medan sebagai ibukota provinsi, tetapi hampir dipastikan juga dihadapi masyarakat di kota kecil. Apalagi kultur masyarakat kita saat ini yang cenderung kurang peduli terhadap sampah. Padahal, sebagai sesuatu yang nyaris sudah tidak berguna, sampah selain bisa memberikan manfaat juga bisa mengundang musibah. Sebaliknya, peduli terhadap sampah selain dapat menghilangkan kemungkinan musibah kita sekaligus bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar darinya.

Hj Dewi Budiati – salah seorang warga kota Medan – yang menggagas proses daur ulang sampah, terbukti berhasil sangat luar biasa. Berbagai macam sampah didaur ulang lewat metode yang sangat sederhana, tetapi berhasil menjadikan berbagai produk menarik seperti vas bunga, asbak, tong sampah dan berbagai hiasan yang bernilai ekonomis.

Cara Lain

Selain cara yang dilakukan Hj Dewi Budiati, ada cara lain yang berasal dari salah satu calon Walikota Bandung, Taufikurahman. Dengan alat pengebor tanah, dibuat lubang sedalam 30 - 50 cm berdiameter ± 15 Cm. Kedalam lubang tersebut dapat dijejalkan sampah limbah dapur, kemudian ditimbul bagian permukaannya. Luar biasa, satu lubang ternyata mampu menampung kulit rambutan tiga ikat, yang dapat dipastikan akan cepat didaur ulang menjadi hara tanah yang subur. Bayangkan kalau kulit rambutan dibuang setelah dibungkus plastik seperti yang sering kita lakukan selama ini. Produksi sampah perkotaan akan meningkat, perlu pengangkutan menuju ke TPA, perlu alat transportasi, perlu tenaga dan yang pasti menyedot anggaran APBD Pemerintahan Kota.

Dalam sehari cukup dibuat 4 lubang dengan alat yang sangat sederhana. Semua sampah yang diproduksi dari keluarga dapat ditampung keempat lubang tadi, sehingga tidak perlu menimbun sampah, sekaligus juga tidak perlu menggotong karung sampah mencari tempat pembuangan sampah, yang terkadang menimbulkan masalah baru. Betapa tidak, sampah terkadang dibuang di sisi rel kereta api, yang dengan pasti akan mengesalkan pekerja PT Kereta Api, karena selain potensial menimbulkan erosi tubuh jalan KA, juga menimbulkan bau yang tak sedap. Bahkan tidak jarang sampah dibuang di lahan kosong, yang pasti ada pemiliknya. Walaupun selama ini mungkin masih sah-sah saja, namun kita perlu empati, bagaimana kalau lahan kita dijadikan sebagai tempat membuang sampah?

Alhamdulillah, berbekal alat tadi, kini rumah dan pekarangan bebas dari sampah. Dengan empat lubang yang dibuat setiap pagi, selembar sampah, bahkan sepuntung rokok langsung diarahkan ke lubang tersebut. Esok paginya, sambil mempersiapkan empat lubang yang baru, empat lubang yang sudah penuh dengan sampah ditutup/ditimbun. Dapat diyakini cara ini juga akan berpengaruh pada terbukanya pori-pori bumi, air hujan mudah menyerap ke dalam tanah, sementara sampah yang membusuk kelak menjadi pupuk organik, yang pasti akan menyuburkan tanaman hias di pekarangan rumah.

Manfaatnya

Manfaatnya, nyaris tidak ada lagi sampah dari aneka limbah dapur atau limbah apapun. Semua sampah yang tergolong organik, bisa dihancurkan dalam timbunan tanah, langsung masuk ke dalam lubang. Tidak perlu menyediakan tong sampah atau tempat pembuangan sampah secara khusus, yang terkadang juga dimanfaatkan orang lain, ikut membuang sampah di tempat yang kita sediakan. Lingkungan rumah bebas dari aroma tak sedap, bebas dari lalat dan serangga lain yang berterbangan, bahkan pekarangan menjadi lebih bersih, karena sampah guguran dedaunan dapat langsung dimasukkan ke dalam lubang dan ditimbun.

Kalau saja semua rumah tangga berbuat seperti ini, rasanya kita tidak akan menemukan timbunan sampah yang menantikan pihak Dinas Kebersihan Kota untuk mengangkutnya. Pemerintahan Kota tempat kita tinggal juga tidak perlu repot menyediakan fasilitas transportsi kota, bisa mengurangi jumlah pegawai untuk urusan sampah, yang dapat dipastikan dapat mengalihkan alokasi APBD dinas Kebersihan Kota ke arah yang lebih prioritas. Misalnya, memperindah taman kota, menyediakan fasilitas olah raga masyarakat kota dan sebagainya.

bSampah yang setiap hari kita kumpulkan selain membuka pori-pori bumi untuk resapan air, juga akan menjadikan tanah lebih subur. Sebab, sampah yang dipermentasi oleh tanah secara alami menjadi pupuk organik, bebas dari kandungan kimiawi, yang kalau pada lubang timbunan tanah tersebut ditanami dengan puhon buah-buahan dipastikan akan lebih lezat cita rasanya, bahkan lebih sehat kandungan gizinya. Khusus di perkotaan, pola pengelolaan sampah tadi juga akan mengurangi kemungkinan tersumbatnya got, sehingga sistem drainase dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak seperti sekarang, hujan deras jalanan akan banjir, karena sejumlah got dipenuhi dengan sampah, baik sampah organik dan non organik.

Bisa jadi pembaca punya gagasan yang lebih besar dan lebih komersial untuk urusan sampah ini. Tetapi, sekecil apapun cara pengelolaan sampah harus diyakini paling rasional dan paling realistis untuk dicoba. Biaya yang tidak terlalu mahal, tetapi manfaat yang kita hasilkan sangat besar. Tidak hanya untuk keluarga, juga untuk kepentingan warga di sekitar tempat tinggal kita, bahkan berpotensi memberikan konstribusi pada Pemerintahan Kota. Oleh karena itu, mari kita mulai melakukannya, mengelola sampah dengan baik untuk kebaikan dan kesehatan kita, untuk keindahan dan kelestarian lingkungan kita bersama, untuk kemajuan kota dan negara kita. Semoga !! ***

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/28/59490/cara_mengelola_sampah_yang_baik/

Swedia, Negara Maju Dalam Mengelola Sampah


Duta Besar Swedia, Ewa Ulrika Polano, hari ini berkunjung ke Aceh untuk bertemu dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Pertemuan tersebut berlangsung di Meuligoe Aceh pada pukul 14.00 wib siang ini, Senin, 4 Februari 2013.
Selain Swedia, juga ada tiga Duta Besar lainnya dari negara-negara Skandinavia yaitu Negara Denmark, Findlandina dan Norwegia.
Bagi masyarakat Aceh Negara Swedia tidak asing lagi. Pada masa konflik Swedia sering dijadikan salah satu negara untuk mencari suaka politik. Bahkan Gubernur Aceh Zaini Abdullah pernah lama tinggal di negara tersebut.
Negara yang memiliki empat musim ini memang sangat damai dan makmur. Ia menjadi salah satu tujuan pencari suaka seperti timur tengah. Kemakmuran negara ini menjadi daya tari bagi siapapun untuk mencari kehidupan yang tenang.
Tingkat kemiskinan di Swedia termasuk paling rendah di dunia, dan pembagian kekayaannya cukup merata pada populasi penduduknya. Masyarakat Swedia juga dikenal dekat dengan alam dan produktif. Semua ini tentu menyumbang kualitas kehidupan yang tinggi. Masyarakat Swedia juga dikenal sebagai salah satu pembayar pajak tertinggi di dunia.
Selain itu negara ini juga dikenal sangat maju dalam pengelolaan sampah. Dalam data statistik Eurostat, rata-rata jumlah sampah yang menjadi limbah di negara-negara Eropa adalah 38 persen. Swedia berhasil menekan angka itu menjadi satu persen.
Swedia adalah negara terbesar ke-56 di dunia, dikenal memiliki manajemen sampah yang baik. Mayoritas sampah rumah tangga di negara ini bisa didaur ulang. Namun dampaknya Swedia kini kekurangan sampah untuk bahan bakar pembangkit energi.
Menariknya Swedia kini mengimpor 800 ton sampah pertahun dari negara-negara tetangganya di Eropa. Mayoritas sampah tersebut berasal dari Norwegia. Sampah-sampah ini sekaligus untuk memenuhi program Sampah-Menjadi-Energi (Waste-to-Energy) di Swedia. Dengan tujuan utama mengubah sampah menjadi energi panas dan listrik. Namun mereka tidak mau mengimpor sampah-sampah yang dianggap beracun

Sumber: http://atjehpost.com/

Sabtu, 16 Februari 2013

Usulan Manajemen Persampahan di Pondok Sukmajaya Permai



TPSS Pondok Sukmajaya Permai pada awalnya didisain untuk menampung sampah khusus di Pondok Sukmajaya Permai, yaitu RW 02 dan RW 03. Namun dalam perkembangan selanjutnya terjadi perluasan pelayanan secara tak terkendali, sehingga terkesan siapa saja boleh buang sampah di TPSS ini. Berdasarkan pengamatan kami selama 1,5 bulan terakhir (Januari-Februari 2013), terdapat beberapa kejadian yang tidak sesuai prosedur sebagai berikut:
1.       Gerobak sampah dari Perumahan Andika yang berada di RW 01 buang sampah di TPSS ini.
2.       Gerobak sampah bermotor dari RW 10 (perkampungan) ikut buang sampah juga.
3.       Pribadi dari kontrakan 24 di RW 01 juga buang sampah di TPSS
4.       Pribadi yang tinggal di dekat masjid Falahul Karim, RW 01 buang sampah
5.       Pribadi yang tinggal di samping SD Sukmajaya Permai di RW 04 buang sampah
6.       Hampir tiap malam banyak sampah tak dikenal bertebaran di depan TPSS. Tidak diketahui darimana asalnya, namun ditengarai dibuaang malam hari.
Menyikapi kondisi di atas, kami mengusulkan perbaikan manajemen persampahan sebagai berikut:
a.       Truk sampah DKP Depok agar mengambil langsung sampah dari rumah ke rumah, sehingga jika ada tumpukan sampah karena kelalaian DKP dapat didistribusikan secara merata kepada warga.
b.      Gerobak sampah yang mengangkut sampah dari RT-RT ditiadakan, sehingga tenaga kebersihan yang ada dapat dialihtugaskan menjadi tenaga kebersihan di tiap-tiap RT, misalnya menangani kebersihan got, taman dll.
c.       Perlu ada tenaga pengawas tambahan berupa pemulung yang dikasih surat tugas dari ketua RW sekaligus diberikan seragam dan honor, sehingga dapat mengawasi pada jam kerja (pukul 07.00 sd 17.00)    
d.      Memperkenalkan dan memulai bank sampah di lingkungan Pondok Sukmajaya Permai sehingga dapat memberikan kontribusi positif kepada semua warga secara konstruktif.

Monitoring Pengambilan Sampah oleh Truk DPU Depok



Berikut ini kami sampaikan laporan monitoring terhadap pengambilan sampah di TPSS Pondok Sukmajaya Permai periode Januari 2013 dan periode Februari 2013 per 16 Februari 2013. Sesuai dengan papan nama yang ada, pengambilan sampah dilakukan 3 kali sepekan atau kurang lebih 12 kali sebulan. Berikut ini kami sampaikan rincian pengambilan sampah tersebut:
a.       Bulan Januari 2013
No
Hari
Tanggal
Catatan
1
Rabu
2 Januari 2013
Sopel dan 1 Truk
2
Senin
7 Januari 2013
Sopel dan 1 Truk
3
Selasa
15 Januari 2013
1 Truk
4
Kamis
17 Januari 2013
Sopel dan 1 Truk
5
Kamis
24 Januari 2013
2 Truk
6
Sabtu
26 Januari 2013
Sopel dan 1 Truk
7
Kamis
31 Januari 2013
1,5 Truk
b.      Bulan Februari 2013
No
Hari
Tanggal
Catatan
1
Sabtu
2 Februari 2013
1 Truk
2
Kamis
7 Februari 2013
1 Truk
3
Jum;at
8 Februari 2013
1 Truk
4
Sabtu
9 Februari 2013
1 Truk
5
Senin
11 Februari 2013
2 Truk
6
Kamis
14 Febrauri 2013
3 Truk karena ada isu kunjungan Wakil Walikota ke kantor Lurah Sukmajaya pada 15 Februari 2013
7
Sabtu
16 Februari 2013

Dari tabel di atas, terlihat adanya perbaikan layanan sampah. Pada bulan Januari 2013 hanya ada 7 kali pengangkutan dari criteria 12 kali atau 58,33%. Untuk bulan Februari 2013 naik menjadi 100% karena ada isu peninjauan Wakil Walikota ke kantor Lurah Sukmajaya.