Kamis, 31 Januari 2013

Djuniawan Wanitarti Pengelola Bank Sampah Menyulap Sampah Jadi Rupiah

Sampah bisa menjadi barang berharga di tangan Djuniawan Wanitarti. Berbekal kepedulian sosial dan lingkungan, perempuan 45 tahun ini mengubah sampah yang semula tak berarti bagi masyarakat di sekitar rumahnya menjadi sebuah cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Kebetulan, perumahan yang ia huni dekat dengan salah satu tempat pembuangan sampah (TPS) di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Bau tak sedap dari sampah membuatnya berpikir mencari solusi. Dengan modal dari kas RT, Djuni membagikan keranjang sampah kepada sekitar 35 kepala keluarga. Petugas kebersihan diminta tidak mengambil sampah selama sebu-lan di kompleks perumahan. Sampah dalam keranjang dibuang di tempat khusus setelah dipilah antara sampah basah, kering, dan pecah belah.

Djuni juga bersiasat, menjadikan tempat sampah permanen di depan rumah warga sebagai pot yang diisi berbagai macam tanaman. Dengan begitu, sampah tidak menumpuk di depan rumah warga. Ibu dua anak ini rutin memantau aktivitas warga.

Mau diapakan sampah yang sudah dipilah? Muncul ide menjadikannya peluang usaha untuk kepentingan bersama. Caranya, sampah kering dijadikan kerajinan dan sampah basah dibuat kompos. Ia pun mengajak ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya untuk lebihkreatif memanfaatkan waktu.

Hasilnya menambah kas RT. Selain mengganti modal awal pembelian keranjang, penjualan kerajinan juga digunakan menambah lampu penerang jalan. "Dari kita untuk kita kembali," ujar Djuni.

Dalam perjalanan waktu, Djuni akhirnya mendirikan kelompok peduli lingkungan-disebut Pok Lili. Beranggotakan sembilan ibu rumah tangga, kelompok ini kemudian membentuk bank sampah. Kini nasabahnya mencapai 110 orang.

Seperti bank umumnya, bank sampah juga memiliki blanko tabungan. Tabungan biasa ditimbang dan dikumpulkan setiap Jumat. Dengan menerapkan prinsip koperasi, bank sampah dapat mengumpulkanuang hingga Rp 3 juta per bulan. Dari kerajinan tangan terkumpul hingga Rp 5 juta per bulan.

Dari penghasilan ini, 20 persen dikembalikan ke kas Pok Lili, mengganti modal bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan. "Sekarang banyak yang nggak malu lagi menenteng sampah," tuturnya.

Kompos cair biasanya dijual Rp 10 ribu per botol. Kerajinan ber-varia-si dari Rp 5 ribu hingga Rp 125 ribu. Kerajinan yang dibuat beragam, seperti hiasan rumah tangga, pernak-pernik wanita, atau tempat mukena. "Kebanyakan orang masih gengsi menggunakan barang daur ulang seperti ini. Jadi, kita buat sebagus mungkin sehingga kesannya bukan barang bekas," tuturnya.

Djuni mengakui, dengan adanya kerajinan, volume sampah yang dibuang menjadi lebih sedikit. Badan Lingkungan Hidup (BLH) pun mendukung adanya bank sampah ini. BLH lalu menjadi langganan tetap barang kerajinan yang dibuat Djuni dan kawan-kawan. "Mereka rajin memesan suvenir dari kita."

Masyarakat sekitar juga sering memesan berbagai suvenir untuk berbagai acara. Djuni berharap Dinas Kebersihan dapat membantu mempromosikan dan mendistribusikan produk kerajinan yang mereka buat. Selama ini, promosi dilakukan dari mulut ke mulut, sehingga warga perumahan menjadi semakin akrab.

Referensi:  http://ukmindonesiasukses.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar