Jumat, 25 Januari 2013

Manajemen Sampah Berdaya Komersial

Urusan sampah di Indonesia belum menggembirakan. Gunung sampah semakin menjulang di tempat pembuangan akhir (TPA). Mencoba inovasi baru pengelolaan sampah terjangkau menjadi sangat penting.
Melihat kota-kota di Jepang yang bersih, itu bukan tanpa usaha. Dalam kehidupan sehari-hari kita, di taman kota yang luas, sering tidak disediakan tempat pembuangan sampah umum untuk keindahan. Kalaupun ada, itu berupa tempat sampah ukuran biasa. Bagaimana menangani karakter sampah di Indonesia yang sudah telanjur campur, tidak dipisah-pisah dalam pengelolaannya.
Sejumlah mahasiswa Indonesia memilih studi pengolahan sampah di Jepang, berharap pengelolaan sampah di Tanah Air bisa lebih baik. Bayu Indrawan, mahasiswa kandidat doktor dari Department of Environmental Science and Technology - Tokyo Institute of Technology - Jepang, adalah salah seorangnya. Kegelisahan mengarahkannya kepada pencarian teknologi alternatif yang sesuai kondisi sampah di Indonesia.
Mengolah sampah yang awalnya tercampur menjadi produk bermanfaat yang homogen. Di tempatnya menimbal ilmu, Bayu diperkenalkan dengan teknologi hydrothermal bernama Resource Recycling System (RRS). Teknologi RRS ini hak paten Prof Kunio Yoshikawa dari Tokyo Institute of Technology.
Bayu menuturkan, teknologi RRS cocok dengan karakter sampah campur Indonesia yang tak perlu pemisahan (80% bahan organik dan campuran plastik), RRS menggunakan gas bertekanan dan uap suhu tinggi (3 atm, 200 C). Cara ini lebih ramah lingkungan, relatif murah, teknologi lebih sederhana sehingga komponen kandungan lokal bisa mendekati 90%. “Uang tidak perlu dibelanjakan ke negara lain,”katanya. Teknologi alternatif ini sudah diterapkan secara komersial di Jepang antara lain di Hokkaido,Nagoya dan Ichinomiya.
Sampah campur perkotaan (Municipal Solid Waste/MSW) dan sampah pertanian dimasukkan ke reaktor, disusul memasukkan uap bertekanan tinggi dari boiler. Dengan alat pelebur, sampah di dalam reaktor terurai dalam waktu 30-60 menit. Hasil sementara berupa lumpur. Pengeringan lumpur,kering sendiri jika dibiarkan dua hari,atau disemprot dengan uap panas dan hasilnya akan langsung kering – berupa bubuk menyerupai bubuk batubara.
“Karena hanya menggunakan uap bertekanan tinggi, tidak menghasilkan zat kimia berbahaya. Bau juga hilang dan bakteri mati karena suhu tinggi,” kata Bayu. Hasil akhirnya bisa menjadi bahan penyubur tanah, bahan bakar padat, bagus untuk bahan bakar oven. Dalam skala kecil bisa dijadikan briket seperti arang untuk memasak.
Untuk kapasitas pengolahan sampah yang sama, dibandingkan dengan sistem incinerator misalnya, investasi awal RRS 60% lebih murah dari cara incinerator. Biaya operasional dan pemeliharaan instalasi 55% lebih rendah dan menghasilkan produk bermanfaat. Membutuhkan lahan sedikit, 200 ton/hari sampah cukup ditampung di lahan setengah hektare, hasil produk tadi memiliki kepadatan tinggi.
Dari tumpukan sampah yang banyak menjadi tumpukan kecil lagi bermanfaat. Efisiensi teknologi pengolahan sampah ini tinggi, hanya membutuhkan energi di bawah 20% dari keluaran yang dihasilkan untuk menjalankan sistem pengolahan sampah.Jadi bisa memenuhi diri sendiri (self sustainable system) atau tidak perlu energi tambahan dari luar untuk menjalankannya.
Di Indonesia, karakter khas di lingkungan sampah yaitu abang-abang petugas sampah di perumahan pun bisa dipekerjakan di plant RRS. Mereka bisa dipekerjakan untuk mengepres briket dari produk keluaran, memilah sampah besi dan glass yang tidak bisa dibakar. RRS punya kelebihan.
sumber : Seputar Indonesia versi cetak 13 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar